Sabtu, 19 April 2025

Stockholm syndrome

sedikit pembuka, tulisan ini terinspirasi dari percakapan saya dan teman masa kecil saya, dan semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat kami untuk tetap mencoba bertemu secara utuh di waktu-waktu yang akan datang, meskipun di tengah hiruk pikuk kegiatan dan drama keluarga di kota masing-masing.
Layaknya beberapa orang sahabat yang sudah sangat lama tidak bertemu, akhirnya kami dapat berkumpul setelah sekian tahun rencana itu tak pernah terjadi. Banyak hal kami bicarakan, sangat banyak bahkan, mengingat kami berteman sejak usia taman kanak-kanak, hal-hal lucu, senang, sedih, tragis bahkan saling menertawakan kebodohan-kebodohan kami tentang masalah percintaan di masa lalu.
Dalam beberapa hal kami memiliki selera yang berbeda, tim sepakbola kesayangan yang saling bermusuhan, argumen-argumen dalam mengelola keuangan, arsitektur dan bahkan trik-trik sederhana dalam menghadapi wanita bernama istri di rumah. wkwkwk
Salah satu hal yang kami sepakati dengan kekaguman adalah musik dan grup band favorit, berteman sejak kecil, menuju remaja dan dewasa kami sama-sama ditemani dengan musik dan syair dari lagu-lagunya blink 182, dan salah satu album favorit kami "feeling this" dari band tersebut sampai saat ini masih sering kami dengarkan. Wajar saja karena tahun realease dari album tersebut bertepatan dengan usia kami yang saat itu memasuki masa-masa putih abu-abu.
Pertemuan itu benar-benar kami nikmati dengan tawa, canda dan kadang air mata, dengan suara musik dari album favorit kami, kami bernyanyi bersama seolah saat itu "Tom Delonge" sedang bernyanyi di depan kami, lagu demi lagu, bait demi bait kami nikmati dengan bernyanyi walaupun dengan bahasa inggris yang pas-pasan. Sampai pada intro sebuah lagu terdengar suara seorang perempuan mirip sedang membacakan sebuah puisi tapi dengan intonasi dan penekanan yang lebih datar. musiknya cukup gelap dan saat memasuki part dimana lirik dinyanyikan seperti dua orang yang sedang bersahut-sahutan dalam pertengkaran dan kemarahan yang amat sangat, di tambah dengan ketukan drum dari Travis barker yang benar-benar seperti kehilangan kendali dalam memukul stick yang dia pegang saat itu.

"Tau apa yang dibaca oleh wanita tua ini?" tanyaku pada teman-teman saat itu
"ini adalah surat cinta dari neneknya mark hopus (bassis dari blink 182) kepada kakeknya pada masa perang dunia ke-2"
jawabku untuk pertanyaan ku sendiri yang bahkan teman-temanku tak sedikitpun aku beri waktu untuk menjawab pertanyaan tadi.
Mereka hanya tersenyum tipis, karena sebenarnya aku sedang pamer berapa blinknya diriku pada mereka, dan tentu saja mereka sudah mengetahui akan hal itu.
selang beberapa saat salah satu temanku bertanya "tau judul lagu ini?"
"Stockholm syndrome" jawabku cepat, lagi-lagi dengan atensi betapa blinknya aku wkwkwk
"tau stockomlm syndrome itu apa?" tanyanya mengejar jawabanku 
"hmmmmz" gumamku bingung dalam hati,
dan untuk kesekian kalinya temanku yang satu ini mengungguliku, setidaknya dalam hatiku berpikir demikian!!
nah dari percakapan itulah tulisan ini dimulai!!
haaah baru mau di mulai? (pasti pada nanya kan?)🤣
setelah panjang kali lebar baru mau di mulai,
maaf ya kan dari awal emang tulisan ini aku tujukan buat mengenang pertemuan kami,
tentang stockholm syndrome mari kita bahas part kedua dari tulisan ini...
hehe
teman saya adalah pencerita yang sangat baik, dari dulu saya selalu kagum dengan bagaimana dia mendeskripsikan detail-detail kecil dalam balutan ceritanya, dan mungkin tulisan saya ini tidak dapat secara utuh mewakili cerita teman saya saat itu, tapi saya akan coba sebaik mungkin untuk memberikan gambarannya.
mari kita mulai

Suatu saat seorang wanita cantik bak tuan putri hidup dan dibesarkan oleh seorang laki-laki sempurna, orang-orang memanggilnya marry, dia hidup berdua dengan seorang ayah yang mendedikasikan seluruh sisa hidupnya untuk kebahagian anak semata wayangnya itu.
Sejak usia 10 tahun ibu marry telah meninggalkan, alih-alih merasa kesedihan akan kehilangan sosok ibu, marry justru tumbuh amat bahagia dan tidak kekurangan sedikitpun selama hidupnya, hal itu tidak lain karena sosok ayah yang benar-benar sempurna di mata marry, yang dengan sadar marry menjadikan dirinya sebagai wanita dengan standar laki-laki yang sangat tinggi. Di matanya, ayahnya adalah ambang batas minimal untuk siapapun yang ingin mendekatinya.
Dengan standarnya yang sangat tinggi itu tidak jarang banyak lelaki yang mengurungkan niatnya untuk mendekati marry, karena betapa tingginya sosok ayahnya tersebut, karir yang mapan, aset yang cukup dan seolah membuat maary tidak membutuhkan lelaki lain di hidupnya, belum lagi penampilan marry yang bak tuan putri seolah menegaskan bahwa hanya seorang pangeran yang pantas mendampinginya.
Usia marry sudah tidak muda lagi untuk seorang perempuan, ayahnya juga tidak keberatan jika anak satu-satunya itu memutuskan untuk tidak menerima siapapun dihidupnya, toh aset dan harta yang dia kumpulkan rasanya akan cukup untuk membuat marry bahagia.
Suatu hari ayahnya menerima telpon dari dua laki-laki misterius, yang mengaku sedang bersama marry 


bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAGAIMANA JIKA KAMU ADALAH DUNIANYA?

tenang, sunyi tapi tak sepi. apa yang kamu lihat dari pemandangan hijau itu? bayangan seseorang? kenangan? harapan yang hilang? ...