Suatu saat seorang wanita cantik bak tuan putri hidup dan dibesarkan oleh seorang laki-laki sempurna, orang-orang memanggilnya marry, dia hidup berdua dengan seorang ayah yang mendedikasikan seluruh sisa hidupnya untuk kebahagian anak semata wayangnya itu.
Sejak usia 10 tahun ibu marry telah meninggalkan, alih-alih merasa kesedihan akan kehilangan sosok ibu marry justru tumbuh amat bahagia dan tidak kekurangan sedikitpun selama hidupnya, hal itu tidak lain karena sosok ayah yang benar-benar sempurna di mata marry, yang dengan sadar marry menjadikannya sebagai wanita dengan standar laki-laki yang sangat tinggi di mata ayahnya adalah ambang batas minimal untuk siapapun yang ingin mendekatinya.
Dengan standarnya yang sangat tinggi itu tidak jarang banyak lelaki yang mengurungkan niatnya untuk mendekati marry, karena betapa tingginya sosok ayahnya tersebut, karir yang mapan, aset yang cukup dan seolah membuat maary tidak membutuhkan lelaki lain di hidupnya, belum lagi penampilan marry yang bak tuan putri seolah menegaskan bahwa hanya seorang pangeran yang pantas mendampinginya.
Usia marry sudah tidak muda lagi untuk seorang perempuan, ayahnya juga tidak keberatan jika anak satu-satunya itu memutuskan untuk tidak menerima siapapun dihidupnya, toh aset dan harta yang dia kumpulkan rasanya akan cukup untuk membuat marry bahagia.
Suatu hari ayahnya menerima telpon dari dua laki-laki misterius, yang mengaku sedang bersama marry, mereka memberikan telponnya kepada ayah marry dan membiarkan marry berbicara. Betapa terkejutnya ayahnya mendengar putri cantiknya yang sedang ketakutan, dia histeris dan tidak menyangka akan kejadian tersebut.
Singkat cerita kedua pria tersebut meminta sejumlah uang sebagai alat tukar untuk mengembalikan marry, dan tentu saja ayahnya menyetujui permintaan tersebut, yang terpenting adalah keselamatan marry dan itu sudah cukup untuknya untuk ditukar dengan apapun di hidupnya. tidak tanggung-tanggung kedua pria tersebut meminta uang 1 milyar untuk harga marry, dan ayahnya marry menyetujui permintaan tersebut, akan tetapi mengambil uang di bank saat itu tidak semudah sekarang, butuh waktu apalagi dengan jumlah yang besar. Ayahnya meminta waktu satu Minggu untuk mengumpulkan uang tersebut dan meminta mereka menunggu, dia berjanji tidak akan melapor pada pihak kepolisian asalkan setiap hari dia dapat berbicara dengan marry dan meminta jaminan dari kedua pria tersebut untuk keselamatan marry.
Kedua pria tersebut setuju dengan syarat tersebut dengan meminta sejumlah uang untuk DP sambil menunggu ayah Marry mengumpulkan uang tersebut. Hari berlalu dengan ayahnya yang selalu mendapat kesempatan untuk berbicara dengan mereka, dalam beberapa hari Marry yang awalnya terdengar sangat ketakutan mulai terdengar lebih tenang, bahkan dihari ketiga Marry terdengar sangat aneh.
Ayahnya merasa Marry yang lebih tenang itu justru menunjukan sikap yang mencurigakan, beberapa kali Marry memuji kedua pria yang menculiknya itu dan mengatakan bahwa mereka memperlakukan Marry dengan sangat baik, mereka menghargai Marry sebagai seorang wanita, dan yang paling aneh, Marry sempat bertanya perihal jumlah uang yang mereka minta kepada ayahnya dan setelah Marry tau bahwa mereka meminta uang 1 Milyar, Marry sempat mengucapkan hal aneh, dia bilang kenapa aku dihargai dengan uang cuma 1 Milyar? apa aku semurah itu?
tentu saja hal ini membuat ayahnya bertanya-tanya, tapi karena kepanikan dan hal yang paling utama adalah keselamatan Marry ayahnya hanya menganggap itu sebagai hal yang tidak perlu ditanggapi secara serius.
Tepat di hari yang dijanjikan, kedua pria tersebut menentukan titik dimana mereka akan bertransaksi, mereka memilih sebuah pom bensin di pinggiran kota dengan memastikan bahwa ayahnya tidak membawa siapapun pada waktu itu, mereka mengarahkan ayah marry untuk datang sendirian serta menyimpan uang tersebut dekat tempat sampah besar yang ada di pom tersebut, lalu menyuruh ayahnya menunggu di toilet dan dalam waktu 10 menit marry akan datang menemui ayahnya.
ayahnya yang panik dan ketakutan selalu menyetujui apa yang mereka minta, lagi-lagi yang paling penting adalah keselamatan marry, setelah mengikuti semua arahan mereka ayahnya menunggu marry di toilet dengan perasaan yang sangat cemas, dia takut jika kedua pria tersebut tidak menepati janjinya.
Betapa leganya dia setelah menunggu beberapa saat akhirnya marry datang, dia tampak baik-baik saja selain terlihat kelelahan dan berantakan karena beberapa hari tinggal di sebuah gudang yang terbengkalai, berapa bahagianya dia melihat anak semata wayangnya telah kembali, tanpa banyak basa-basi mereka langsung pergi meninggalkan tempat pertemuan itu untuk menuju rumah.
Sebelum kembali ke rumah ayahnya sempat membawa marry ke klinik untuk memastikan bahwa tidak ada luka di tubuh marry. Karena saat itu marry terlihat baik-baik saja, tenaga medis tidak memeriksa marry secara mendalam, hanya memberi kesimpulan jika marry mengalami sedikit trauma yang akan sembuh dalam waktu dekat, marry hanya diberikan obat penenang dosis rendah untuk memastikan dia dapat istirahat yang cukup.
Sesampai di rumah marry sering mengurung diri, bahkan setelah beberapa hari Marry selalu menangis dan berteriak histeris, terkadang sampai memukul-mukul tangannya ke dinding, ayahnya sangat terpukul dengan kondisi Marry dan sebelum terlambat dia memutuskan untuk memeriksa Marry ke klinik yang lebih lengkap untuk dilakukan pemeriksaan yang lebih intensif. Marry bertanya-tanya kenapa dia harus kembali diperiksa, dia merasa baik-baik saja, dia diperlakukan dengan baik oleh kedua pria tersebut dan sekarang marry telah kembali, apa pentingnya pemeriksaan tersebut sekarang, toh marry telah kembali dengan selamat?
tapi ayah marry bersikukuh untuk terus berngkat pergi ke klinik dan memeriksa keadaan marry, benar saja sesampai di klinik hasil visum menunjukan bahwa terdapat luka-luka di badan marry di sejumlah titik dan secara kasat mata luka itu sudah tidak terlihat karena sudah membaik, fakta lainnya terdapat luka di area sensitif Marry yang menunjukan bahwa sebenarnya marry telah disetubuhi oleh kedua pria tersebut. Hal yang paling mengejutkan dari semua hasil pemeriksaan tersebut adalah lagi-lagi Marry mengelak, Marry mengatakan bahwa kedua pria tersebut adalah pria yang baik dan mereka memperlakukan Marry dengan sangat baik, Marry selalu mencoba meyakinkan ayahnya bahwa orang yang telah menculiknya adalah orang-orang baik, tentu saja ayahnya tidak dapat menerima pengakuan tersebut, kemarahannya memuncak dan dia memutuskan untuk melaporkan kedua pria tersebut kepihak kepolisian untuk mempertanggung jawabkan perlakuan mereka kepada Marry, putri cantik yang satu-satunya dia miliki di dunia ini.
Tidak memerlukan waktu yang lama pihak kepolisian dapat menemukan jejak kedua pria tersebut, karena pada dasarnya kedua pelaku hanyalah orang amatir dalam dunia kejahatan, mereka hanya pencuri biasa yang baru pertama kali menculik seseorang untuk mendapatkan uang.
Mereka diadili dan mengakui segala tuduhan akan perbuatannya, berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan dan kepolisian, selama proses pengadilan marry tidak pernah sekalipun menghadiri sidang, menimbang kondisi kesehatan marry ayahnya meminta untuk tidak menjadikannya sebagai saksi. Sampai pada sidang terakhir ayahnya memutuskan untuk hadir bersama Marry, dengan harapan kondisi marry akan sedikit membaik dengan melihat kedua pelaku telah dijatuhi hukuman berat dan setimpal atas perbuatannya.
tibalah hari itu, untuk pertama kalinya marry bertemu dengan dengan kedua pelaku di pengadilan, marry menangis sejadi-jadinya dan berteriak-teriak bukan karena membenci mereka, Marry justru mengatakan kepada semua orang di persidangan bahwa kedua pria tersebut adalah orang baik, mereka tidak pantas diadili dan dijatuhi hukuman, dia bahkan menyalahkan dirinya sendiri karena telah membuat dua pria baik hati mendapatkan hukuman yang tidak adil.
kedua pria yang melihat keadaan Marry tidak merasa bersalah sedikitpun, mereka bahkan menyebutnya dengan sebutan gila, ya Marry benar-benar seperti orang gila.
kondisi marry yang demikian diadnosis sebagai Stockholm syndrome, dimana Sindrom Stockholm ini adalah kondisi ketika terbentuk ikatan psikologis dalam diri para sandera kepada para penyanderanya.
Sindrom ini dihasilkan dari serangkaian keadaan yang cukup spesifik, yakni ketimpangan relasi kuasa selama masa penyanderaan, penculikan, atau hubungan yang kasar.
Persis seperti apa yang dialami oleh Marry, trauma psikologis yang amat hebat menjadikannya seperti kehilangan orientasi, seolah tidak bisa membedakan siapa pelaku dan siapa pahlawan diantara mereka.
kembali pada konteks sebuah lagu yang disajikan oleh Blink 182 yang menggambarkan bagaimana hubungan toxic yang terjadi dalam waktu yang lama seolah membuat korban kehilangan kesadaran sosial, pada awalnya itu dilakukan sebagai bentuk pertahanan diri, perlakuan kasar, kata-kata tidak sopan diterima dan di normalisasi oleh individu dalam upayanya bertahan dalam sebuah hubungan dan dalam proses upayanya tersebut orang itu mulai menerima perlakuan itu dengan mudah dan ringan, yang lebih parah dia seolah menganggap perlakuan tersebut adalah pantas dia dapatkan karena dia telah melakukan kesalahan yang membuat pelaku dianggap pantas melakukan kejahatan tersebut.
gaes panjang kali lebar cerita seorang Marry semoga sedikit membuka mata kita akan keadaan psikologis kita masing-masing untuk lebih aware kepada hal-hal yang terjadi pada kita dan orang-orang disekitar kita terhadap miskonsepsi dan penyimpangan-penyimpangan terutama dalam hubungan sosial, ataupun antar individu yang lebih kecil.
terima kasih telah membaca, jangan lupa berikan saran untuk perbaikan di tulisan-tulisan selanjutnya!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar