Minggu, 12 Mei 2024

Wish The Best Prepare the Worst

satu minggu pagi di medio 2017-2018, saya sedikit lupa tepatnya. Saya pergi ke sebuah tempat yang cukup terpencil di pinggiran kota Tasikmalaya, tempat yang saya tuju ternyata sedikit melingkar, semacam sebuah short cut yang menghubungunkan daerah cineam dan gunung tanjung (sebuah nama daerah di kabupaten Tasikmalaya).
Sebetulnya sebuah perjalanan ringan, hanya untuk mengantar kerabat kami yang hari itu akan melaksanakan resepsi pernikahannya di tempat calon istrinya.
Karena sebelumnya memang sudah diingatkan bagaimana kondisi alam di tempat yang kami tuju serta bagaiman terjal dan sempit jalan yang akan kami lewati, saya memang secara khusus di minta untuk membawa mobil offroad karena memang disiapkan untuk mengantisipasi beberapa hal buruk yang mungkin terjadi dalam perjalanan.
Benar saja ternyata jalannya sangat terjal, beberapa kali kami menemukan jalanan coran dan beberapa diantaranya jalan tanah dengan lumpur sedang, yang tentu saja bukan masalah serius untuk mobil saya lewati.
Kami berhenti pada sebuah tanah lapang, yang memang direncanakan untuk tempat semua kendaraan dalam rombongan, dan rencananya akan melanjutkan perjalanan dengan jalan kami selama 20-30 menit, saya perkirakan mungkin 1-3 km untuk perjalanan dengan berjalan kaki.
Saya memperhatikan sekitar,  orang-orang sudah mulai berjalan kaki. Saya menyempatkan untuk berbincang ringan dengan warga sekitar, untuk sekedar melepas lelah dan secara khusus saya sangat ingin tau kenapa kami harus berjalan kaki menuju sisa perjalanan.
"can  kantos aya mobil nu bgalangkung kadinya mah a!" 
pernyataan seorang warga setempat yang menggelitik saya. Bukannya ciut, nyali saya saat itu benar-benar tertantang untuk bisa melewati jalan sebuah gunung tersebut, saya sangat penasaran dan menurut saya jalan tersebut tidak akan terlalu susah untuk saya lewati. Beberapa kontur jalan memang sedikit miring dengan sisi tebing yang lumayan curam, tapi sekali lagi itu akan sangat mudah untuk mobil saya lewati.
Seseorang dari rombongan kami ternyata cukup penasaran juga, saya mengajaknya dan sedikit menantang nyalinya,
"wani teu?"
tantang saya, dan tentu saja dia menyambut tantangan saya dengan cukup berani.
Kami pergi berdua, saya sendiri sebetulnya sangat senang ada seseorang di mobil saya untuk sekedar menemani mengobrol diperjalanan.Tidak banyak yang rintangan saya rasa dalam perjalanan ini, hanya satu jembatan selokan kecil yang sudah tidak dapat digunakan dan sekali lagi bukan gal yang sulit untuk saya lewati dengan kendaraan penggerak roda empat (4x4).
Mungkinnhanya 8-15 menitan waktu yang saya habiskan untuk menempuh perjalanan ini, sampai kami sampai pada jalan coran yang sudah sangat layak dilewati kendaraan-kendaraan lain dengan penggerak roda depan maupun roda belakang saja (4x2).
Warga disana heboh, orang-orang keluar rumah mendengar untuk pertama kalinya ada mobil yang melintasi gunung tersebut.
Tentu saja saya merasa bangga dan sedikit gumasepšŸ˜… di hadapan mereka, rasanya saat itu saya orang paling keren yang berada disana.
"Atuhz sakieu mah teu aya nanaonan!"
ucap saya dengan nada sombong, tak lupa kacamata hitam menempel di meriasi wajah saya saat itu. 
Rupanya perjalanan baru dimulai saat itu, rintangan bukanlah terletak di dalam hutan, tapi di jalanan aman dan bisa dilewati semua orang.
Sayup terdengar suara musik khas resepsi pernikahan, dari atas saya dapat mendengarnya dengan cukup jelas dan memang terlihat kerumunan orang dengan pakaian rapih.
Ah itu rupanya tempat resepsi pernikahannya! gumam saya dalam hati.
Saya yang saat itu sedang merasa tinggi karena sudah menaklukan sebuah perjalanan yang tidak pernah di lewati siapa saja, kesombongannya mulai menjadi ketika melihat ternya dibawah ada sungai dengan air yang jernih terlihat sangat dangkal dan saya dapat menggunakan air tersebut untuk mencuci mobil saya yang sudah sedikit kotor melewati jalan sebelumnya. Lagipula itu jalanan beton, bukan tanah maupun lumpur dan secara logis, biasanya saya akan melewati jalanan tersebut dengan mudah. 
Tidak ada hal menarik saat saya melewati turunan tersebut, saya memarkirkan mobil saya tepat di depan sungai yang saya hendak tuju tadi. Orang-orang memuji keberanian saya dan memang tujuan saya saat itu ya demikian, pamer, gumasep dan hayang kapuji🤣🄓.
Setelah menyantap makan saya putuskan untuk pulang, dan melewati jalan yang sama. Hal aneh dimulai, setelah beranjak dengan mudah dari sungai, tiba-tiba mobil saya berat.
Tanjakan itu memang berat tapi harusnya mobil saya dengan mudah dapat melewatinya. 2,3,4,5 bahkan mungkin saya sudah mencobanya lebih dari 10x untuk mencoba naik ke atas dan masih saja gagal.
Orang-orang yang melewati mulai menciba untuk mendorong mobil saya, saya tersenyum karena memang sangat sulit beberapa orang dapat mendorong mobil saya dalam kemiringan yang demikian.
Lagipula saya punya senjata terakhir di mobil saya, ya Whinch depan saya terpasang dengan baik, panjangnya juga cukup jauh! 
Panjang seling bawaan pabrik 35-50 meter, dan saya sangat percaya diri dengan kemapuan mobil say.
kami mulai mengulur tali seling, ada pohon besar diatas yang bisa saya jadikan whincing point dan rasanya akan sangt cukup menahan beban mobil saya.
Celakanya..
Tali seling dari whinch saya tidak cukup menggapai pohon tersebut. Disanalah saya mulai panik dengan kondisi saat itu, semua yang saya dan mobil saya miliki sudah saya keluarkan dan belum bisa menarik kami keluar dari turunan tajam itu.
keringat dingin saya mulai mengucur deras, penyesalan dan rasa malu bercampur di hati saya.
Sebelumnya saya sangat percaya diri saat bertemu orang-orang dsn saat itu saya mulai malu dan merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian orang-orang....



bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAGAIMANA JIKA KAMU ADALAH DUNIANYA?

tenang, sunyi tapi tak sepi. apa yang kamu lihat dari pemandangan hijau itu? bayangan seseorang? kenangan? harapan yang hilang? ...